JAMBI.PUSARAN.ONLINE – Bimbingan Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi terus berkomitmen melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kerukunan umat Buddha di Provinsi Jambi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pembinaan dan bimbingan keagamaan sebagai tugas dan fungsi yang menjadi tanggung jawab BImas Buddha, termasuk dalam penguatan moderasi beragama.
Kementerian Agama terus berkomitmen menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia melalui berbagai langkah strategis, salah satunya dengan mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara bijak dan bertanggung jawab.
Kementerian Agama mendukung pemanfaatan perkembangan teknologi melalui Artificial Intelligence (AI) secara bijaksana dan mnghindari penyebaran informasi yang tidak akuran dan valid sebagaimana marak terjadi saat ini di berbagai media sosial. Dan berbagai penyebaran berita atau informasi bohong (hoaks) tersebut dapat pula berdampak negatif dalam memecah kerukunan umat beragama.
Oleh karena itu, pada kesempatan gelaran Ngopi Kerukunan Intern Umat Buddha Edisi XIV yang diselenggarakan pada Minggu (26/7/2026) di Vihara Sakyakirti mengusung tema “Menepis Hoaks, Persfektif Buddha dan AI” dengan menghadirkan narasumber YM Nyana Suryanadi Mahathera yang saat ini menjabat sebagai Maha Nayaka di Sangha Agung Indonesia, dan dosen aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga.
Beliau memberikan pemahaman agar umat Buddha dapat memahami informasi hoaks, sehingga dapat membedakan informasi yang benar dan informasi yang salah dari berbagai informasi yang diterima. Menurut beliau, saat ini manusia tidak lagi kekurangan informasi. Dalam satu hari, seseorang bahkan dapat menerima ratusan bahkan ribuan informasi yang perlu disikapi secara bijak.
Dalam Buddhisme, terdapat kondisi yang disebut moha atau kebingungan dan delusi atas informasi yang diterima yang membuat seseorang tidak jenih berpikir, mudah dipengaruhi, dan mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Oleh karena itu, pentingnya kebijaksanaan yang dimulai dari kesadaran untuk memikirkan lebih baik sebelum percaya, dan mengecek kebenaran sebelum berbagi informasi.
Dalam salah satu sila Buddhis, terdapat tekad melatih diri menghindari ucapan tidak benar, meliputi larangan berbohong, memfitnah, gosip, dan kata kasar. Kejujuran ini membangun kepercayaan dan keharmonisan yang tidak hanya menjaga ucapan melainkan menjaga diri terhadap postingan, komentar, maupun unggahan di era digital saat ini.
Kalama Sutta yang merupakan khotbah terkenal dari Sang Buddha yang mengajarkan umat Buddha untuk berpikir kritis, tidak percaya begitu saja hanya karena banyak dibagikan, tradisi, ucapan tokoh terkenal, logis menurut pikiran, dan viral tanpa diselidiki terlebih dahulu. Inilah kondisi literasi digital Buddhis.
Penting untuk mengambil lima Langkah bijaksana dalam menghadapi informasi hoaks, yakni jangan langsung percaya, pikirkan terlebih dahulu, periksa sumbernya, bandingkan dengan sumber lain, dan bagikan jika hanya benar dan bermanfaat.
Beliau menerangkan pemahaman mengenai integrasi kebijaksanaan Buddha dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab melalui Buddhist Digital Dis, yaitu:
- Perhatian penuh (Sati) dengan menyadari kebenaran informasi sebelum bereaksi atau membagikannya;
- Penyelidikan bijaksana (Yoniso Manasikara) dengan menyelidiki informasi secara bijaksana dan mendalam;
- Kebijaksanaan (Panna) demham menilai informasi dengan kebijaksanaan dan tidak terpengaruh bias informasi;
- Niat baik (Cetana) melalui penggunaan AI dengan niat baik dan tanggung jawab moral;
- Komunikasi yang benar dengan berbagi informasi yang benar, akurat, valid, bermanfaat, dan tepat waktu; dan
- Informasi yang disampaikan secara benar untuk menumbuhkan harmoni, persatuan, dan kedamaian sehingga memperkuat kerukunan masyarakat.
Pemanfaatan AI yang terus berkembang dengan cepat untuk memperluas kebijaksanaan, mempererat persaudaraan, dan menjaga kerukunan, bukan untuk menyebarkan kebencian.
Perkembangan teknologi digital menjadi peluang besar dalam memperluas penyebaran pesan-pesan keagamaan yang moderat, edukatif, dan menyejukkan. Melalui pemanfaatan AI yang tepat, Kementerian Agama mendorong masyarakat, penyuluh agama, serta para pemangku kepentingan keagamaan untuk menghasilkan informasi yang positif, memperkuat toleransi, serta mencegah penyebaran informasi yang dapat memicu perpecahan.
Melalui sinergi antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai keagamaan, Kementerian Agama berharap tercipta ruang digital yang damai, inklusif, dan harmonis. Dengan demikian, teknologi AI dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga kerukunan umat beragama serta memperkokoh persatuan bangsa.











